Salah satu makanan yang lekat dengan Ramadhan adalah rendang. Dimasak berjam-jam dengan bumbu yang lengkap hingga harumnya membuat tetangga semua tahu kalau kita masak rendang, ha ha ha ha…. Buat keluarga kami, rendang adalah menu wajib jelang lebaran, simbol perayaan setelah sebulan menahan lapar dan emosi.
Buat warga Indonesia yang lain, mungkin juga mirip-mirip. Kalau kita buka Google Trends dan mengetik kata “rendang” dengan lokasi Indonesia, grafiknya hampir selalu naik menjelang Ramadan dan memuncak mendekati Idul Fitri. Polanya mirip tiap tahun. Artinya, di tengah perubahan zaman, ada satu hal yang tetap yaitu saya dan orang-orang Indonesia lainnya mencari rendang ketika Ramadan dan lebaran tiba.

Tapi ternyata, ongkos membuat rendang itu tidak sama di setiap tempat di Indonesia. Saya mencoba menghitungnya sederhana. Menggunakan data harga pasar tradisional per 27 Februari dari Bank Indonesia, saya menyusun indeks berbasis tiga bahan utama yakni satu kilogram daging sapi kualitas 1 (paha belakang), 250gram cabai merah, dan 1 ons bawang merah. Santan dan bumbu kering diasumsikan relatif stabil antar daerah. Tiga bahan dasar ini adalah yang paling utama untuk rendang.
Hasilnya cukup membuka mata. Papua mencatat ongkos tertinggi, sekitar Rp 187 ribu untuk bahan utama rendang versi simulasi ini. Harga cabai di sana mencapai Rp 81 ribu per kilogram, dan daging di atas Rp 160 ribu. Bahkan sebelum santan dan bumbu masuk wajan, biaya dasarnya sudah jauh di atas rata-rata nasional.
Kalimantan juga muncul sebagai kawasan dengan ongkos tinggi. Kalimantan Barat, Selatan, Tengah, dan Timur berada di kisaran Rp 178–182 ribu. Cabai dan bawang di beberapa provinsi melonjak signifikan, memperlihatkan bagaimana distribusi dan logistik masih sangat menentukan harga pangan.
Sebaliknya, Jawa Timur, NTT, dan sebagian wilayah Sulawesi relatif lebih rendah, dengan indeks di kisaran Rp 136–145 ribu. Sumatera Barat, asal rendang, berada di sekitar Rp 163 ribu. Tradisinya mungkin berasal dari sana, tetapi struktur harga tidak selalu mengikuti sejarah.
Yang menarik, kenaikan biaya ini bukan semata karena harga daging. Di beberapa daerah, cabai justru menjadi faktor penentu. Selisih harga cabai antar provinsi bisa mencapai lebih dari Rp 50 ribu per kilogram. Karena rendang sangat bergantung pada cabai untuk rasa dan warna, volatilitas ini langsung terasa di dapur.
Dan perlu diingat, data ini diambil bahkan sebelum puncak permintaan Ramadan. Artinya, tekanan harga sudah terasa lebih awal. Ketika pencarian “rendang” di Google meningkat, harga bahan baku juga cenderung ikut bergerak.
Rendang sempat dinobatkan menjadi makanan terenak di dunia. CNN Internasional menobatkan rendang sebagai peringkat pertama dalam daftar 50 Makanan Terenak di Dunia pada tahun 2011, 2017, dan kembali masuk dalam daftar teratas pada 2021.
Tapi tidak sekadar makanan terenak di planet ini. Rendang dengan disparotas harganya bisa jadi cermin struktur ekonomi. Infrastruktur, distribusi, akses pasar, semuanya ikut menentukan apakah sepiring rendang terasa ringan atau berat bagi dompet.
Well, cukup dengan harga. Ini strategi saya memasak rendang tanpa drama berlebihan. Pakai bumbu instant, biasanya saya pakai yang merek Indofood, tambahkan bawang merah, bawang putih, serai dan santan. Masaklah pakai panci presto biar irit gas. Buat keluarga saya sudah cukup, tetap enak dengan daya minimalis 😊.
Tapi ini ada resep versi agak susah. Gunakan 1 kg daging sapi bagian paha belakang, potong agak besar. Haluskan 8 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, 5–7 cabai merah (bisa disesuaikan dengan selera dan harga), sedikit jahe, lengkuas, dan kunyit. Tumis bumbu sampai harum. Masukkan daging, aduk sampai berubah warna. Tambahkan 1 liter santan, daun jeruk, daun kunyit, dan serai. Masak dengan api kecil sambil sesekali diaduk. Proses ini bisa memakan waktu 2–3 jam sampai santan mengering dan bumbu menghitam. Kuncinya sabar dan api kecil.
Jika tidak ingin repot, bisa langsung ke rumah makan padang. Bisa yang dekat rumah atau yang kelas sultan seperti restoran pagi sore. Apakah ada yang punya kebiasaan memasak rendang di bulan puasa atau jelang lebaran?

Share this content:


