Pada pertengahan Mei 2026, akun X @ywdzaa menulis sebuah cuitan yang mewakili perasaan banyak pekerja Indonesia.
“bulan mei tahun ini adalah the real worklife balance: kerjanya 16 hari liburnya 15 hari digajinya tetep 30 hari. bisa ga sih setiap bulan tuh kek gini ajaaa”
Unggahan tersebut mendapat lebih dari 42.000 tayangan dan memancing banyak respons serupa.

Memang, Mei 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi pekerja Indonesia. Kombinasi hari libur nasional, cuti bersama, dan akhir pekan telah “menciptakan” beberapa long weekend yang membuat bulan tersebut terasa jauh lebih ringan dibandingkan bulan-bulan lainnya. Banyak hari libur nasional adalah kemewahan yang bisa dirasakan hampir oleh semua pekerja di Indonesia, tanpa membedakan kasta karyawan. Terlebih, in this economy, mengharapkan gaji naik dan bonus lebih susah.
Tapi, apakah dengan banyaknya hari libur nasional di bulan Mei 2026 lalu sebenarnya cerminan bahwa Indonesia termasuk negara dengan hari libur nasional terbanyak di dunia?
Berapa rata-rata hari libur nasional di dunia?
Ternyata tidak. Menurut analisis Pew Research Center terhadap 190 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), rata-rata negara di dunia memiliki 13 hari libur nasional dalam setahun. Kajian ini menggunakan data dari situs Time and Date https://www.timeanddate.com yang kemudian mereka verifikasi. Data yang dipakai adalah angka tahun 2026.

Lalu, Indonesia sebenarnya punya berapa hari libur nasional? Posisinya di atas atau di bawah rata-rata? Sebelum membahas Indonesia, kita cek dulu tiga negara dengan jumlah hari libur nasional terbanyak adalah:
- Myanmar yang memiliki 30 hari
- Bangladesh yang punya 29 hari
- Sri Lanka yang memiliki hari libur 25 har
Tiga besar diambil oleh Asia ternyata. Selain ketiga negara tersebut, Kamboja, Iran, dan Lebanon juga memiliki lebih dari 20 hari libur nasional setiap tahun.
Banyaknya hari libur nasional di tiga negara tersebut bukan semata-mata karena kebijakan ketenagakerjaan. “Faktor terbesar justru berasal dari sejarah, budaya, dan agama,” jelas Andrew Prozorovsky dan Anna Jackson di situs Pew Research (12/2/2026).
Myanmar dinilai memiliki mayoritas penduduk beragama Buddha. Banyak hari libur nasional mengikuti kalender lunar, termasuk perayaan Tahun Baru Buddha (Thingyan) dan sejumlah hari purnama yang berkaitan dengan kehidupan Buddha. Sementara itu, Sri Lanka memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai Poya Day. Setiap hari purnama ditetapkan sebagai hari libur nasional. Karena dalam setahun terdapat sekitar 12 kali purnama, jumlah hari libur nasional Sri Lanka menjadi sangat banyak. Belum lagi hari libur yang lain.

Lain lagi dengan Bangladesh. Negara ini mengakomodasi berbagai kelompok agama dalam kalender nasionalnya. Selain Idul Fitri dan Idul Adha, terdapat pula hari libur untuk Janmashtami, Waisak, dan Natal. Pada 2026, Bangladesh juga menambahkan dua hari libur untuk pelaksanaan pemilu nasional.
Indonesia punya 22 hari libur nasional
Indonesia sendiri, ketika saya mengecek ke situs Time and Date, hasilnya adalah 25. Tetapi, mungkin jumlahnya menurut Time and Date kurang dari itu karena mereka tidak menghitung hari libur nasional yang jatuh pada weekend. Ketika saya cek kalender, ternyata ada 3 tanggal merah yang jatuh di weekend. Jadi kemungkinan Pew Research akan menilai Indonesia punya 22 hari libur nasional atau hampir sama dengan 1 bulan hari kerja (weekend tidak dihitung). Jumlah tersebut jauh di atas rata-rata global yang hanya 13. Ini berarti, Indonesia memang banyak hari libur nasional di 2026. Jadi dalam 1 tahun, pekerja Indonesia sebenarnya bekerja 11 bulan saja, jika dihitung hari kerjanya saja ya.
Pew Research juga mengamati jika Indonesia memiliki karakteristik yang menarik. Kalender nasional Indonesia mengakomodasi berbagai tradisi keagamaan yang berbeda, mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu.
Dalam satu tahun, masyarakat Indonesia menikmati hari libur untuk:
- Tahun Baru Masehi
- Isra Mikraj
- Imlek
- Nyepi
- Waisak
- Kenaikan Yesus Kristus
- Idul Fitri
- Idul Adha
- Tahun Baru Islam
- Maulid Nabi
- Natal
Keberagaman ini membuat Indonesia memiliki kalender yang relatif padat dibandingkan banyak negara lain. Bahkan, ketika ditambah dengan cuti bersama, jumlah hari tidak bekerja yang dinikmati masyarakat Indonesia bisa terasa jauh lebih banyak daripada jumlah hari libur nasional resminya.

Negara dengan hari libur nasional paling sedikit
Di sisi lain, terdapat beberapa negara yang memiliki sangat sedikit hari libur nasional. Salah satunya Swiss yang hanya memiliki satu hari libur nasional yang berlaku secara federal, yaitu Hari Nasional Swiss pada 1 Agustus. Namun masing-masing kanton memiliki kewenangan menetapkan hari libur tambahan sendiri.
Bosnia dan Herzegovina adalah contoh lain. Mereka punya empat hari libur nasional karena sebagian besar kewenangan pengaturan hari libur berada di tingkat wilayah. Sementara itu Uruguay memiliki lima hari libur nasional. Menariknya, beberapa perayaan besar seperti Karnaval dan Pekan Suci tetap dianggap hari kerja secara hukum.
Jadi mengapa jumlah hari libur nasional bisa berbeda di setiap negara?
Setidaknya ada tiga faktor utama yang memengaruhi jumlah hari libur nasional suatu negara.
- Keragaman agama. Semakin banyak tradisi keagamaan yang diakomodasi negara, semakin banyak pula potensi hari libur yang muncul dalam kalender nasional.
- Sistem politik. Negara federal seperti Swiss sering menyerahkan kewenangan penetapan hari libur kepada wilayah atau negara bagian.
- Sejarah dan identitas nasional. Hari kemerdekaan, hari revolusi, atau peringatan nasional tertentu sering kali mencerminkan peristiwa penting dalam sejarah sebuah bangsa.
Jadi, banyaknya tanggal merah bukan hanya soal kesempatan beristirahat atau berlibur. Di balik setiap hari libur terdapat cerita tentang sejarah, keyakinan, dan cara sebuah bangsa memilih menghargai keberagamannya.


Comment