Jurnalisme data hanya untuk topik besar, mitoskah?
Ada anggapan yang masih sering muncul,bahwa jurnalisme data itu hanya cocok untuk topik besar, berat, dan penuh angka. Misalnya ekonomi makro, pemilu, pandemi, atau laporan keuangan negara. Padahal, artikel semakin kuat jika tulisan punya keterkaitan dengan data.
Bahkan, tulisan paling naratif sekalipun selalu bertumpu pada informasti, data, dan sejenisnya. Bisa berupa pengalaman personal yang berulang, pola yang diamati, kecenderungan yang terasa, atau angka kecil yang awalnya tampak sepele. Masalahnya, data ini sering tidak diperlakukan sebagai fondasi. Informasi hanya pelengkap, atau bahkan tidak disadari sebagai data sama sekali.
Jadi, sebenarnya aplikasi jurnalisme data bisa untuk semua artikel.
Bukan soal grafis atau spreadsheet
Jurnalisme data bukan soal grafik dan bukan pula spreadsheet rumit. Ia lebih dekat dengan kebiasaan bertanya, apakah ini kebetulan atau pola? Seberapa sering ini terjadi? Siapa yang terdampak, dan siapa yang tidak terlihat?
Pertanyaan-pertanyaan itu bisa muncul aneka topik. Mulai dari kesehatan, gaya hidup, lingkungan, sampai cerita kota. Bahkan topik yang paling dianggap receh sekalipun misal judul lagu dan nama orang. Yang penting kreatifitas bukan? Juga hal-hal yang unik yang jarang diangkat justru segar.
Ambil contoh artikel tentang kehidupan pekerja gen z. Topik-topik ini sering ditulis secara emosional, dan itu sah. Tapi ketika satu lapisan data ditambahkan, ceritanya tambah berbobot dan juga jujur. Karena data adalah realita yang susah ditentang, meski kadang membuat tidak nyaman beberapa orang.
Data membuat pembaca berhenti sejenak, mengernyitkan dahi karena temuan yang menghasilkan hal yang berbeda dengan ekspetasinya. Bahkan, kadang temuan juga menguatkan intuisi yang ada tapi belum pernah terkonfirmasi. Demikian pula saat proses penulisan. Sang penulis juga tidak langsung bisa menyimpulkan temuannya. Saat ada angka tidak cocok, sumber tidak sinkron, atau tren yang diharapkan tidak muncul. Dari jeda itulah analisis biasanya menjadi lebih matang.
Tidak membuat tulisan dingin
Yang sering dilupakan, jurnalisme data tidak selalu membuat tulisan jadi dingin. Data bisa dipakai untuk mempersempit fokus atau menunjukkan siapa yang paling terdampak. Angka juga bisa menunjukkan seberapa besar jaraknya, atau sejak kapan perubahan itu terjadi, cerita manusianya justru makin tajam. “Banyak orang” bisa diganti dengan sekian persen. “Akhir-akhir ini” diganti dengan tapi lima tahun terakhir.
Apakah dengan data akan muncul kepastian? Tidak juga karena dari pengalaman, angka bisa berubah, setiap sumber bisa berbeda angka dan tafsir bisa muncul dari sudut pandang yang berbeda. Tapi setidaknya, dengan data dan angka, kita tahu dari mana kita mulai menimbang.
Dan mungkin itu esensi terpenting dari jurnalisme data. Ini bukan membuat tulisan terdengar pintar, melainkan membuat proses berpikir kita lebih bertanggung jawab.


Comment