Home / Culture / Mengapa Kucing Lebih Cepat Bertambah daripada Manusia?

Mengapa Kucing Lebih Cepat Bertambah daripada Manusia?

“Kalau pulang kerja, yang nyambut duluan bukan pasangan, tapi para majikan alias kucing-kucing saya.”

Kalimat seperti itu semakin sering terdengar. Memang, di media sosial, foto dan video kucing boleh dibilang selalu berhasil menarik perhatian. Toko-toko perlengkapan hewan juga terus bermunculan, di mal bahkan di gang-gang sempit. Klinik hewan, layanan grooming, penitipan, hingga kafe yang ramah hewan juga semakin mudah ditemukan.

Fenomena itu ternyata riil terjadi di Indonesia. Bahkan, data menunjukkan bahwa populasi kucing peliharaan di negeri ini bertambah jauh lebih cepat dibandingkan jumlah penduduknya.Waduh… majikan beneran akan menggantikan babu ini.

Berdasarkan kompilasi data Badan Pusat Statistik (BPS), Goodstats, Euromonitor, dan Kompas.com, jumlah kucing peliharaan di Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 2,15 juta ekor pada 2016 menjadi 8,18 juta ekor pada 2026. Artinya, dalam sepuluh tahun populasinya berlipat-lipat, atau hampir meningkat empat kali lipat.

Kucing-bertambah-13-kali-1024x819 Mengapa Kucing Lebih Cepat Bertambah daripada Manusia?

Kalau dihitung laju pertumbuhannya dan dibandingkan dengan angka pertumbuhan penduduk, hasilnya juga sangat kontras. Populasi kucing diperkirakan bertambah rata-rata 14,3 persen per tahun, sedangkan jumlah penduduk Indonesia hanya tumbuh sekitar 1 persen per tahun. Dengan kata lain, populasi kucing berkembang sekitar 13 kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penduduk.

Kenapa Tiba-Tiba Menulis tentang Perkucingan? Selamat Datang Catta Data

Angka itu tentu tidak berarti Indonesia serta merta “kebanjiran kucing” karena angka pokoknya sangat jauh. Jadi, tenang. Koloni kucing belum menggantikan manusia kok xaxaxaxaxa. Insightnya adalah hubungan masyarakat dengan hewan peliharaan sedang berubah.

Dari pemburu tikus naik kelas jadi anggota keluarga

Selama bertahun-tahun, alasan memelihara kucing di Indonesia relatif sederhana. Kucing dipelihara karena mampu mengusir tikus atau menjaga lingkungan rumah tetap bersih dari hama. Kini, alasannya semakin beragam.

Banyak orang memelihara kucing bukan karena manfaat praktisnya, melainkan karena ikatan emosional yang terbangun. Kucing menjadi teman di rumah, penyemangat setelah bekerja, bahkan bagi sebagian orang menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari yang sulit dipisahkan. Benar kan… hayo ngaku saja.

Perubahan itu terlihat dari cara orang memperlakukan hewan peliharaannya. Jika dahulu cukup diberi makan, kini banyak pemilik yang rela membeli makanan premium, membawa kucing ke dokter secara rutin, menggunakan jasa grooming, membeli mainan, vitamin, hingga stroller. Tidak sedikit pula yang merayakan ulang tahun kucingnya.

Dalam berbagai laporan industri global, perubahan tersebut dikenal sebagai pet humanization, yaitu kecenderungan memandang hewan peliharaan sebagai anggota keluarga, bukan sekadar hewan yang dipelihara.

Tidak Semua Olahraga yang Nge-tren Tumbuh dengan Cara yang Sama

Euromonitor International mencatat sekitar 71 persen pemilik hewan di berbagai negara menganggap peliharaannya sebagai bagian dari keluarga. Pergeseran cara pandang inilah yang menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri pet care dunia dalam beberapa tahun terakhir. Yang pasti, sangat terasa bahwa Indonesia sedang bergerak ke arah yang sama.

Mengapa fenomena ini terjadi?

Gaya hidup masyarakat semakin urban menjadi penyebab fenomena ini. Rumah-rumah di kota besar cenderung lebih kecil, apartemen semakin banyak, sementara mobilitas masyarakat juga semakin tinggi. Dalam kondisi seperti itu, kucing lebih mudah dipelihara dibandingkan banyak jenis hewan lain. Mereka relatif mandiri, tidak membutuhkan ruang luas, dan tidak harus diajak berjalan setiap hari.

Pandemi Covid-19 juga mengubah hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Ketika aktivitas berpindah ke rumah, banyak orang mulai memelihara hewan sebagai teman yang membantu mengurangi rasa sepi sekaligus menghadirkan rutinitas baru. Menariknya, kebiasaan tersebut tidak berhenti setelah pandemi usai. Euromonitor mencatat lonjakan kepemilikan hewan selama pandemi masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri pet care hingga sekarang.

Media sosial ikut mempercepat popularitas kucing. Video kucing tidur, mengeong, atau bertingkah lucu hampir selalu mudah menjadi viral dan banyak penggemar, termasuk saya. Di saat yang sama, informasi mengenai adopsi, vaksinasi, sterilisasi, hingga perawatan kesehatan juga semakin mudah diperoleh melalui komunitas digital. Efeknya memang sulit diukur secara statistik, tetapi keberadaan komunitas daring membuat memelihara kucing terasa lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Ada pula faktor budaya yang membuat Indonesia berbeda dibandingkan sejumlah negara lain. Dalam masyarakat yang mayoritas Muslim, kucing memiliki penerimaan sosial yang relatif tinggi. Hewan ini lebih mudah diterima di lingkungan rumah maupun ruang publik dibandingkan hewan peliharaan lainnya. Kondisi tersebut ikut membuat pasar hewan peliharaan Indonesia didominasi oleh kucing.

Apakah Indonesia Punya Hari Libur Nasional Terbanyak di Dunia?

Bukan lagi sekadar hobi

Perubahan cara masyarakat memandang kucing ternyata ikut menggerakkan ekonomi. Ketika jumlah pemilik kucing meningkat, permintaan terhadap berbagai produk dan layanan juga ikut tumbuh. Industri makanan premium, klinik hewan, grooming, penitipan hewan, aksesori, hingga layanan kesehatan hewan berkembang mengikuti perubahan tersebut.

Laporan USDA menyebut nilai pasar makanan hewan di Indonesia telah mencapai sekitar US$237 juta pada 2023. Menariknya, sebagian besar pertumbuhan itu didorong oleh meningkatnya populasi kucing. Bahkan, laporan Petfood Industry menyebut makanan kucing menyumbang sekitar 77,5 persen nilai pasar pet food nasional. Artinya, yang sedang tumbuh bukan hanya jumlah kucing, melainkan juga sebuah ekosistem ekonomi baru yang melayani kebutuhan para pemiliknya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan gaya hidup dapat melahirkan industri baru. Sama seperti meningkatnya penggunaan layanan digital menciptakan ekonomi aplikasi, bertambahnya jumlah pemilik hewan peliharaan juga memunculkan peluang bisnis yang sebelumnya relatif kecil.

Apa yang sebenarnya sedang berubah?

Sepintas, bertambahnya jutaan kucing mungkin hanya tampak sebagai statistik. Namun, jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk, cerita yang muncul menjadi jauh lebih menarik. Dalam satu dekade terakhir, populasi manusia bertambah secara perlahan. Sebaliknya, populasi kucing peliharaan meningkat sangat cepat.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa yang berubah bukanlah jumlah manusia, melainkan pilihan hidup mereka. Semakin banyak orang yang tinggal sendiri di kota besar, menunda menikah, atau menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Dalam situasi seperti itu, kehadiran seekor kucing dapat menghadirkan rasa nyaman, rutinitas, sekaligus teman untuk berbagi ruang.

Karena itu, pertumbuhan populasi kucing sesungguhnya dapat dibaca sebagai cermin perubahan sosial. Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia mulai membangun hubungan yang berbeda dengan hewan peliharaan, bukan lagi sebagai penjaga rumah atau pemburu tikus, melainkan sebagai teman hidup.

Ketika jumlah kucing tumbuh sekitar 13 kali lebih cepat daripada jumlah penduduk, yang sebenarnya sedang bertambah bukan hanya populasi meong. Yang ikut bertumbuh adalah cara kita memaknai rumah, keluarga, dan kebersamaan di tengah kehidupan modern.

Catta-Datta-Kitten-2-1024x683 Mengapa Kucing Lebih Cepat Bertambah daripada Manusia?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *